Senin, 08 Juni 2015

Konsultasikan Diabetes Anda Sebelum Berpuasa


Puasa telah di depan mata. Segenap kaum muslimin bersiap menyongsong bln Ramadan ini. Tidak tidak hanya penyandang diabetes. Cuma saja, utk para diabetesi, amat sangat dianjurkan berkonsultasi lebih-lebih lalu dgn dokter terkait niatnya buat berpuasa.

Konsultasi bersama dokter dipakai oleh diabetesi sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan, dikarenakan adanya peningkatan risiko atas dehidrasi, hipoglikemi, ataupun hiperglikemi yg dapat berlangsung. Mereka yg sakit, sebenarnya diperkenankan utk tak berpuasa, tetapi tidak sedikit diabetesi yg ternyata masihlah pilih berpuasa.

Sebaiknya, sebelum & tatkala puasa, diabetesi butuh meraih pengawasan dari dokter. Sayang, faktanya tak begitu. Survei yg dilakukan oleh Novo Nordisk pada 407 diabetesi dari 4 negeri, adalah Malaysia, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, & Algeria, Oktober 2014, menunjukkan 43 % diabetesi berpuasa tidak dengan pengawasan dokter. Baru 57 persennya saja yg berpuasa bersama pengawasan dokter.

Dari diabetesi yg berpuasa tidak dengan pengawasan, sebut dr. Luki Mulia, Sr. Medical Manager Novo Nordisk Indonesia diwaktu temu fasilitas di Jakarta sekian banyak kala dulu, jumlahnya 36 prosen jalankan perubahan sendiri pada regimen pengobatan mereka. Dokter rata-rata tak mengubah regimen pengobatan diabetes, diwaktu pasien mereka sedang berpuasa. Tetapi dokter akan mengubah frekuensi, dosis, atau ketika pengobatan yg ada disaat satu orang pasien sedang berpuasa.

Diabetesi yg berpuasa, di segi lain, pun masih mengkhawatirkan risiko hipoglikemi yg bisa saja berjalan. Banyaknya 52 prosen diabetesi, dari survei tersebut, mengemukakan membatalkan puasa terkait hipoglikemi, 36 prosen lantaran hiperglikemi, & 72 prosen dikarenakan kelelahan, pusing, ataupun dehidrasi.

Hipoglikemi, dikatakan Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, Guru Akbar Fakultas Kedokteran UI, merupakan diwaktu glukosa darah kurang dari 60 Mg/dL. Diwaktu berlangsung hipoglikemi, diabetes mesti mengakhiri puasanya. Hipoglikemi ini, umumnya ditunjukkan dgn jumlahnya tanda. Adrifaza Baraka, penyandang diabetes kategori 1 yg menjalani ibadah puasa, menyampaikan, disaat keringat dingin muncul atau mulai sejak kliyengan, dia dapat serta-merta berbuka puasa.

Tidak Hanya merasakan tanda hipoglikemi, kadar glukosa darah yg rendah bakal ketahuan dari teliti glukosa darah dgn glukometer. "Saat berpuasa, lanjut Adri yg berkonsultasi lebih-lebih lalu dgn dokternya sebelum berpuasa, aku rata rata memeriksa kadar glukosa darah pukul 14 atau 15. Jika akhirnya hipoglikemi, aku dapat buka. Namun jikalau tak, puasanya aku teruskan sampai Magrib."

Risiko yg berjalan tak cuma hipoglikemi. Risiko lain yg dihadapi diabetesi disaat berpuasa merupakan hiperglikemi. Ini berjalan diwaktu kadar glukosa darah lebih dari 300 Mg/dL. Waktu berjalan hiperglikemi, penyandang diabetes butuh membatalkan puasa.

Mengingat risiko yg bisa saja berjalan kepada diabetesi ketika berpuasa, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) merekomendasikan mereka mempersiapkan diri buat sensor medis. Sensor ditujukan utk kenyamanan pasien dengan cara umum, mempertahankan kendali glikemi, tekanan darah, pun lemak darah.

Penilaian medis memang lah sebaiknya dilakukan 1-2 bln sebelum puasa, supaya mampu dilakukan penyesuaian diet, kegiatan jasmani, & atau terapi obat yg dipakai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar